Tampilkan postingan dengan label Film / Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film / Movie. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2009

FILM ANIMASI 3D BUATAN ANAK BANGSA


Ketika saya sedang browsing di dunia maya dan membaca-baca artikel di komunitas Kaskus, ada sesuatu yang membuat saya tertarik. Hal tersebut mengenai sebuah FILM ANIMASI 3D BUATAN ANAK BANGSA. Menurut catatan yang ada, film animasi 3D ini merupakan film animasi 3D karya anak bangsa yang pertama kali muncul di layar lebar. Film animasi 3D tersebut berjudul Meraih Mimpi yang diproduksi Infinite Frameworks (IFW), studio animasi yang berpusat di Batam.


Film Meraih Mimpi sendiri sebenarnya merupakan adaptasi dari buku karya Minfung Ho berjudul Sing to The Dawn. Buku tersebut menceritakan tentang kakak beradik yang berusaha melindungi tempat tinggal mereka dari para kontraktor penipu.

Infinite Frameworks (IFW) membuat adapatasi buku Minfung Ho tersebut atas permintaan pemerintah Singapura yang ingin buku wajib baca di beberapa SD di Singapura tersebut dibuat filmnya. Begitu mendapat tawaran, IFW langsung memulai pengerjaan film Sing to The Dawn. Yang patut kita banggakan dari 150 animator hampir semuanya orang Indonesia dan hanya 5 orang asing....Hebat tidak !!!!!!!!!

Pengerjaan dilakukan sepenuhnya di Batam selama tiga tahun dan memakan biaya sebesar 5 juta dollar AS. Setelah film selesai dibuat pada tahun 2008, film Sing to The Dawn mulai didistribusikan ke berbagai negara mulai dari Singapura, Korea, dan Rusia. Sing to The Dawn tidak langsung diluncurkan ke Indonesia karena IFW ingin memperkenalkan Sing to The Dawn ke penonton luar terlebih dahulu.

“Sing to The Dawn tidak langsung kami luncurkan ke Indonesia karena kami ingin meraih international recognizition terlebih dahulu. Setelah itu, kami baru meluncurkan di Indonesia agar masyarakat tahu bahwa ada studio animasi di Indonesia,” jelas Wisnu Triatmojo, Jubir IFW.

“Kami bangga bisa meluncurkan Meraih Mimpi ke pasar Indonesia,” ujar Managing Director IFW, Mike Wiluan, dalam konferensi pers yang berlangsung di Hotel Hyatt, Jakarta, Senin (27/7).

Sing to The Dawn baru dilokalisasi ke dalam versi Indonesia pada tahun ini dengan judul Meraih Mimpi. Nia Dinata direkrut untuk membantu proses script writing dan Erwin Gutawa diminta langsung untuk mengkomposisi ulang musik yang akan mengiringi film.

Dalam film animasi tersebut, beberapa artis top Indonesia seperti Gita Gutawa, Cut Mini, dan Shanty juga terlibat sebagai pengisi suara. Meraih Mimpi akan mulai tayang di bioskop-bioskop pada tanggal 8-9 September 2009, dimulai dari jaringan bioskop XXI Indonesia.

CINTAILAH PRODUK DALAM NEGERI, KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 11 Juni 2009

Ketika Cinta Bertasbih


Setelah Ayat-Ayat Cinta kini giliran novel karya Habiburrahman El-Shirazy yang bertitle Ketika Cinta Bertasbih diangkat ke layar lebar. Film ini di harapkan akan sesukses kakak-nya dan meraih box office. Pengambilan gambar benar-benar dilakukan di Mesir tepatnya di Kota Kairo, Sungai Nil, Pyramid, Sphinx, Kota Alexandria, Laut Mediterania, dan Benteng Qait Bay. Setelah saya menonton-nya, Film ini di garap secara apik dan berkualitas di bandingkan dengan film-film komedi sex dan kisah misteri yang sekarang sedang tayang pula. Tetapi apakah film Ketika Cinta Bertasbih akan sukses seperti Ayat-Ayat Cinta ?


Mega film Ketika Cinta Bertasbih di produksi oleh Sinemart Pictures dengan sutradara Chaerul Umam dan penulis naskah Imam Tantowi. Sebagian besar pemain utama diambil dari audisi salah satu televisi nasional di 9 kota Indonesia, sehingga banyak wajah baru akan mewarnai KCB. Namun bila saya cermati kualitas akting mereka bagus dan tidak tampak sebagai pendatang baru. Mereka akan didampingi oleh pemain senior antara lain El Manik,Didi Petet, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Minati Atmanegara, dan bahkan menamampilkan ketua Muhammadiyah Din Syamsudin. Bahkan penulis novel fenomenal ini pun Habiburrahman El-Shirazyturut ikut bermain.

Saya tidak akan membahas jalan cerita film ini, karena sebagian besar pecinta karya novel Habiburrahman El-Shirazy lebih khatam. Secara Alur cerita yang di film kan bagus, mendidik, menghibur dan amat sesuai dengan novel asli-nya. Seperti AAC, KCB pun memasukkan pesan-pesan religi di dalam-nya. Dan pantaslah umat islam patut berbangga karena di tayangkan-nya Film ini. Selain pesan-pesan religi, Film yang dilakukan penggambilan gambar juga di Jakarta, Solo, Yokyakarta dan Magelang selama 13 hari itu menyatukan makna cinta, arti sebuah keluarga, persahabatan dan tak luput dakwah.

Ketika seorang individu menonton KCB, pasti ada kata-kata yang keluar yang akan membandingkan dengan maha karya sebelum-nya yaitu AAC. AAC menjadi fenomenal karena novel-nya yang best seller dan hasil pembuatan film-nya yang beda dengan film-film indonesia garapan sebelum-nya. 3,6 juta penonton film AAC itu mungkin sekitar 40 % adalah penonton yang sudah menonton sebelum-nya. Film AAC sangat mengocok-ngocok emosi penonton dan hal ini yang membuat mereka kembali membeli tiket. Bisakah KCB seperti itu ? kita tunggu jawaban-nya setelah 2 minggu tayang

Salah satu yang membedakan Film AAC dan KCB adalah skenario. Skenario KCB mirip dengan novel aslinya, beda dengan skenario AAC yang begitu banyak di edit. Hal ini di mungkinkan karena banyak pecinta novel AAC yang menyayangkan dan memprotes, masukkan tersebut yang menurut saya menjadi dasar kenapa skenario KCB tidak banyak perubahan dengan novel asli-nya. Dan ini akan menjadi tanda tanya besar, skenario hasil editan atau skenario yang mirip dengan asli-nya yang lebih menjual.

Saya hanya sekedar memberi catatan, ada beberapa pemotongannya adegan yang tidak halus serta musik yang tidak pas di masukkan dalam adegan sehinnga tidak menguatkan rasa. Unsur musik inilah salah satu yang membuat AAC sukses. Selain itu film ini juga sarat dengan iklan misalnya saja penyebutan motor yamaha mio, poster vivanews dan yang paling sering pengucapan bank Mandiri. Bahkan ada adegan yang mengatakan tentang mobile banking ketika husna menjemput azzam di bandara.

Dalam Adegan ketika azzam bertemu dengan furqon di pantai pada saat malam hari, bintang-bintang yang bertebaran di langit terasa aneh seperti tidak asli. Mungkin ini penggunaan layar biru dan efeknya kurang baik sehingga kurang natural gambarnya. tetapi kekurangan tersebut akan selalu muncul pada sebuah film, tidak ada karya manusia yang sempurna.

Film berdurasi 124 menit yang telah ditayangkan pada bioskop - bioskop di Indonesia sejak 11 Juni amat disayangkan bila anda-anda tidak menonton film ini karena Film ini termasuk film yang berkualitas dan amat mendidik. Jangan Lewatkan

CINTAILAH PRODUK INDONESIA, jadikan Film Indonesia menjadi Raja di negeri sendiri

[+/-] Selengkapnya...

Senin, 08 Juni 2009

Film Queen Bee


Kemarin tanggal 8 juni 2009 saya menyempatkan diri menonton film drama remaja berjudul Queen Bee di margo city depok. Bila saya analisis jenis film ini adalah film remaja dan film politik. Film Queen Bee mengambil kedua unsur tersebut ini dapat di lihat dari alur cerita-nya. Di bandingkan dengan beberapa film yang mengambil unsur pemilihan umum, film Queen Bee lebih baik serta memberikan pembelajaran politik bagi para remaja yang baru akan memilih tahun ini. Bahkan film ini sebetul-nya bila di cermati memberikan tips-tips dan ide-ide bagaimana cara-nya bagi seorang calon presiden mendapatkan suara swing voter / pemilih pemula.


Film ini menceritakan seorang anak remaja yang baru menginjak 17 tahun bernama Queenita Siregar (Tika Putri). Queen panggilan-nya merupakan anak yang merindukan perhatian orang tua satu-satu-nya yaitu Rachmat Siregar (Mathias Muchu,s) yang terpilih menjadi calon presiden Republik Indonesia. Rachmat Siregar amat sibuk dengan kegiatan politik-nya untuk memenangkan partai-nya agar diri-nya terpilih menjadi kandidat presiden.

Dalam perjalanan-nya Queen yang gadis 17 tahun yang pintar, kreatif dan masih menginginkan hidupnya berjalan biasa seperti remaja kebanyakan, hingga suatu ketika hidupnya berubah menjadi lebih komplek, dimana saat ayahnya terpilih sebagai salah satu calon presiden. Mulai-lah dalam setiap kegiatan-nya, aparat kengamanan ( Paspampres ) sesuai protokoler pengawalan keluarga calon presiden semakin membuat hidup Queen tidak bebas.

Awal-nya komunikasi antara Queen dengan ayah-nya terhalang oleh sebuah tembok kepercayaan. Dengan berjalan-nya waktu dan saran dari pengasuh Queen, Queen masuk dalam aktifitas politik ayah-nya. Dalam aktifitas politik ini sang sutradara memasukkan pesan-pesan-nya, yaitu pembelajaran politik bagi pemula, bagaimana komunikasi antara orang tua dan remaja, penting-nya pemberian kepercayaan bagi remaja, kampanye ajakan anak muda untuk terlibat menentukan nasib bangsa Indonesia karena masa depan ada di tangan pemuda.dll.

Film ini menurut saya layak di tonton bagi remaja dan yang sudah tidak remaja bahkan bagi para calon presiden. Dalam film ini terdapat ide-ide segar bagaimana menarik perhatian swing voter / pemilih pemula. Dalam film ini mengajarkan bagaimana penting-nya peran pemuda di ikutsertakan dalam aktifitas politik.

Majulah Per Film Indonesia "CINTAILAH PRODUK DALAM NEGERI"


[+/-] Selengkapnya...